Jaket Merah, Vol 1, p. 2.1

Share:
Dia dengan semangat mengorek-ngorek meja itu dengan pisau siletnya. Aku terdiam dibelakangnya, pekerjaanku sedang diambil alih seorang yang tak ku kenal sama sekali.
Mengapa dia begitu akrab, bahkan pada orang yang baru dia temui dan belum saling mengenalkan nama. Wajahnya memang awalnya terlihat kaget ketika pertama kali aku bertemu dia di pagi hari tadi. Tetapi saat ini dia sama sekali tidak terlihat menempatkan aku, orang yang sebenarnya tidak dia kenal, sebagai orang lain. Cara berbicaranya kepadaku saat ini terdengar seperti aku adalah teman lamanya.
“Eh… kamu jangan Cuma diam di belakangku dong, bantuin aku…!!!, oh ya mending kamu sikat bekas permen yang udah aku korek, kalia aja ngaruh,…”
Aku masih saja diam, masih terliputi rasa penasaran yang hanya ku tanyakan di dalam hatiku saja.
Dia menoleh ke belakang, memandang wajahku dengan sekitit wajah cemberut. Matanya yang bulat memberi sinyal bahwa dia sedikit sewot.
“Woee… lagi ngelamunin siapa?...”
“Kagak, siapa yang nglamun… kamu ko sok akrab banget tiba nylonong bantu-bantu kerjaanku?...”
Dia terdiam sebentar, melihat wajahku dengan senyumannya. Entah mengapa aku malah jadi merasa merinding, di pandang oleh dia dengan tersenyum.
“Halo… Halo… kamu masih sadar?...” tanganku melambai-lambai di depan wajahnya. Dia terdiam dan menatapku terlalu lama.
“Aku ga sadar…!!!” jawabnya.
“Hah !!!…”
“Sadar lah… ga tau juga kenapa aku jadi sok akrab, udah lah mungkin alasannya kenapa itu gak penting…”
“Kamu bener-bener ga sadar…” tanganku melambai-lambai kembali di depan wajahnya, cek kesadaran.
“Mau dibantu ga ?…” tanyanya balik.
“Iya-Iya… mau…”
Aku menyerah untuk mencari tahu, setidaknya pekerjaan membersihkan sisa permen karet siang ini lebih cepat selesai.
Setelah semua selesai, kami berdua berjalan keluar kelas bersama-sama. Dia terus saja mengoceh, membicarakan apa saja yang dia anggap bisa mengisi waktu. Mulai dari kebiasaannya, hobby, makanan kesukaan, bahkan apa saja pelajaran hari itu dia ceritakan.
Aku tetap saja diam mendengarkannya, hanya sedikit menoleh dan mengangguk ketika dia menanyakan kepadaku apa aku mendengarkannya. Wajahnya terlihat seperti manusia merengek untuk didengarkan semua ceritanya. Aku hanya bisa menghela napas panjang.
“…Grrr…Grrr….” Hp ku bergetar lama seperti saling bersalutan di dalam tas slempangku.

Sebuah pesan singkat dari Fajar, Dito, Jafar, Sulaiman, dan Rudi seperti berdesakkan masuk kotak inbokku.
Belum sempat aku membuka salah satu pesan tersebut, panggilan dari Dito masuk.
“Tit…
“Hoee,… lamma amat… kita udah selesai satu kali CUP,…” suaranya keras di tengah suara bising sekitar Dito.
“Iya bentar… udah mau ambil motor…”
“Emang kamu pake motor Bay…”
“Tunggu aja kamu situ, stiknya kamu siapain kan?...”
“Sip… cepet…”
“Tutttt…. Mati.
Aku berlari kecil menuju parkiran sepeda motor. Wanita berjaket merah yang sedari tadi nyerocos bercerita tidak jelas aku tinggalkan. Aku tak menoleh sama sekali kepadanya. Suaranya berhenti, tak terdengar lagi.
Parkiran sudah sangat sepi, hanya ada beberapa motor dan sepeda yang terparkir di sana. Di minggu awal semester dua ini, ekstra kulikuler belum ada yang aktif. Semua kegiatan kesiswaan dimulai pada minggu depan. Sebagian besar siswa sudah pulang kerumah atau pergi main menghabiskan siang sore hari mereka sebelum pulang kerumahnya. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk bermain PS sepuasnya.
Aku mengendarai motorku melewati kelas-kelas X. Ternyata di depan kelas dimana aku mengangkat telepon dari Dito, perempuan berjaket merah tadi masih berdiri di sana, sendiri.
Selama aku bersamanya, dari pertama bertemu di kelas pagi tadi, mengorek-ngorek sisa permen karet bersama-sama, menjadi pendengar setia semua cerita tak jelasnya, sampai berlari aku meninggalkannya, aku belum mengetahui siapa namanya.
Aku membelokkan motorku menuju tempatnya. Wajahnya masih sama seperti sebelum aku meninggalkannya, tersenyum-senyum seperti sudah lama kenal saja. Aneh.
Aku akan memulai menanyakan namanya dengan sedikit basa-basi. Terasa aneh kurasa jika aku langsung menanyakan namanya, karena dari tadi sebenarnya aku hanya diam tidak menanggapi perbincangannya.
“Kamu sendirian?... ko belum pulang?... sekolah aja udah sepi banget?...” tanyaku sedikit kaku.
“Kamu mau main PS ya?...”
“Aku Tanya, malah balik tanya…”
“Aku ikut ya?” Tanya dia kembali singkat.
“Ikut apa,.. main PS… bisa apa?...”
“Bisa lah,… aku punya PS 1 di rumah, gini-gini aku jago main Metal Slug…” jawabnya dengan bangga.
“Metal Slug… kita mainnya bola, udah ah ga usah ikut, pulang saja sana nanti dimarahi mama kamu…” saranku.
“Ayo lah aku ikut,… soalnya kakaku jemput aku sorean, aku bingung disekolah sendirian,…”
Aku diam, wajahnya memelas.
“Rental PS selatan sekolah kan?... aku jamin bisa ngalahin kamu deh… ga rugi lawan aku…”
Aku putuskan untuk pergi meninggalkannya, tak ingin dipersulit oleh nya,  lagi pula aku tidak mengenalnya. Kutarik gas motorku meninggalkannya.
Baru sekitar lima puluh meter meninggalkan wanita berjaket merah itu ada suara keras menghalau ku.
“Mas… turun dari motor !!!...” terlihat Pak Sobirin, guru olah raga ku di depan kantor guru memberikan intruksi kepadaku.
Kaget dengan suara Pak Sobirin, aku langsung mematikan motor dan turun menuntun motorku. Masih dengan tatapan tegas, Pak Sobirin memandangku.
“Nah… begitu, tau aturannya kan tidak boleh menaiki kendaraan di area sekolah…” suara Pak Sobirin keras.
“Iya Pak, maaf lupa…” jawabku malu-malu.
Sementara aku menuntun sepeda motorku, wanita berjaket merah berlari mengejarku.
“Aku ikut lah… pasti aku menang. Ga kecewa lawan aku…”
“Ga usah…”
“Pokoknya ikut…”
Dia terus saja memaksa untuk ikut. Bahkan walaupun aku menakut-nakuti bahwa di sana semua anak laki-laki, dia tetap ngotot ikut.
“Ya udah boleh ikut… tapi bayar!!!...”
“Siap boss…” jawabnya mantap.

Sepanjang jalan menuju rental dia terus saja bercerita tentang game-game yang pernah dia mainkan. Tak kusangka wanita berjaket merah yang tiba-tiba sok akrab ini, dari cerita yang dia berikan memiliki pengalaman dalam bermain game. Akhirnya aku pun terbawa oleh perbincangannya, karena dia membicarakan game tak terasa aku sudah merasa akrab dengannya.
Rental PS siang sore ini sangat rame, tidak ada satupun layar televise yang kosong. Semua PS dengan kedua stiknya sudah di pegang oleh pemakainya, yang kesemuanya adalah laki-laki. Aku memasuki rental PS itu dengan diikuti wanita berjaket merah itu di belakangku.
“Tuh kan ga ada cwe nya… nanti kamu ga nyaman…”
“Dari pada di sekolah ngelamun, mending di sini lah…” katanya ketus.
Dua PS kami pesan, PS pertama sedang di mainkan oleh Rudi dan Sulaiman, sedang PS kedua sedang dimainkan oleh Dito dan Jafar, sementara Fajar sedang menunggu giliran duduk di belakang Dito. Mulut Fajar terus saja memberi komentar jalannya pertandingan antara Dito dan Jafar.
Kami masuk kedalam ruangan tersebut, Dito langsung mem-pause gamenya.
“Halo boss,.. lama banget, orang penting sih ya…” Dito berkomentar.
Fajar yang tadinya serius ngerecoki pertandingan Dito VS Jafar, beralih pandang dari layar televise menuju muka ku. Tapi tak bertahan lama, pandangannya beralih menuju siapa yang di belakangku.
Wajah Jafar terlihat bertanya-tanya, dia menyikut-nyikut Jafar seolah ingin menunjukkan sesuatu kepadanya.
“Aku boleh ikutan main ya… aku gratisin satu jam deh…” wanita berjaket merah itu tiba-tiba menawarkan diri pada teman-temanku.
Sulaiman tiba-tiba menoleh kepada kami, wajahnya sama seperti Dito dan Jafar. Wajah penasaran.
“Aku jago juga loh main bola… boleh ya” tawar wanita berjaket merah sekali lagi.
“GOOLLLLL…. GOLLLLL,… Man… gol lagi aku, ahh payah banget kamu…”
“Hoeehhh… sial… aku lagi ga focus tadi,…” jawab Sulaiman kepada Rudi.
“Kamu temennya Bayu ya?...” Tanya Dito kepada wanita berjaket merah.
“Bayu?... Bayu siapa?...”
“Lah… itu yang didepanmu !!!...”
Wanita berjaket merah itu memandangku, dan tertawa. “Hehe…”
“Bay… kamu ga kenal dia…” Tanya Fajar.
Aku menggeleng.
“Oh iya,… kenalin namaku Intan, Intan Pritasari… panggil saja terserah kalian yang penting masih namaku… hehe…” kenalnya.
“Jafar…”
“Dito…”
“Sulaiman”
“Fajar…”
“GOOLLLL……” teriak Rudi.
“Hahhh…. Ah curang….” Sulaiman spontan.
“Bercanda-bercanda Man…, aku Rudi mba…”
“Jangan panggil mba lah, namaku saja…” senyumnya kepada semuanya.
Pandangan Intan sekarang beralih kepadaku.
“Kamu ga ngenalin namamu ke aku?...” Tanya Intan kepadaku.
“Kan udah di sebutin sama Dito…”
“Oh yang tadi… Bayu ya… oke-oke sory, hehe…”
Tiba-tiba semua pertandingan yang teman-temanku mainkan di close menuju menu. Semua berebut untuk bermain dengan Intan. Semuanya focus kepada Intan dan melupakan keberadaanku.
“Heh… kita buat Liga, biar adil, biar ga rebutan main sama… siapa namamu?...” teriakku kepada teman-temanku lalu aku menoleh ke Intan.
“Intan…”
“Iya… biar ga rebutan Intan…”
“Eciee… langsung cemburu… hahaha…” simpul Rudi.
“Ehem… Ehemm…” seru mereka bersama-sama.
Sampai akhirnya kami berenam memainkan game bola yang di liga. Belum sampai habis waktu main PS yang kami sewa, Intan pamit dahulu karena kakanya sudah menunggu menjemputnya di depan sekolah.
Semua teman-temanku menanyakan bagaimana aku bisa bersamanya menuju rental PS. Aku menceritakan sebisaku kepada mereka, tapi mereka tetap saja tak percara apa yang aku ceritakan. Jafar malah sampai-sampai menuduhku memakai guna-guna, santel, pellet atau semacamnya.
Entahlah, aku sendiri juga bingung dengan wanita berjaket merah itu. Mengapa dia bisa begitu mudah akrab denganku dan teman-temanku. Padahal baru hari ini aku bertemu dengannya.
Hal yang aku masih penasari pada Intan adalah mengapa dia tidak menyinggung jaketnya yang terkena permen karetku. Mungkin, intan sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan jaketnya.
Sudah sore, lebih baik aku pulang kerumah.

BERSAMBUNG DISINI

No comments