cerita itu perlu

Tuesday, March 17, 2015

Mereka di Mata Guru-Guru: Vol. 1, p. 4

No comments :
Intan berlari meninggalkanku, sedangkan teman-temanku yang tadi memisahkan diri dariku belum terlihat keluar dari warung emak Surti. Suara tertawa mereka masih terdengar jelas dan keras, aku putuskan untuk menghampirinya.

“Wah…. Sialan kalian, main misah segala,… Yuk kekelas…”

“Lah entar lah, nunggu bel buyi,… srruuttt”

Dito dengan santainya menyeruput sisa kuah sotonya.

“Ngapain juga di kelas kalau belum masuk Bay… iya ngga Rud?...”

“He ekhmm…”

“Sudah Bell masuk, Ndes… !!!”

“Hahh… yang bener Bay?”

Fajar tersentak.

“Makanya kalo ngobrol jangan kaya orang demo…” bentak aku.

“Yo… ayo kekelas…” ajak Sulaiman.

“Bentar… aku belum bayar…” tahan Jafar.

Kami berlima berjalan menuju kelas, Fajar begitu semangat karena akan melewati kelas X1.

“Ngomong-ngomong si Intan kalau dari luar kelas kelihatan ngga ya?...”

“Udah deh Jar… kamu ikhlasin ke Bayu kenapa,… nah itu si Nurul Jar… lihat ngga, itu loh….” Teriak Sulaiman kepada Fajar.

“Nurul… hah… Nurul?? kalo kamu mau aku ga halangin Man…”

“Marah… gitu aja marah… Jar Nurul manggil kamu itu…”

“Mana?...”

“Haha… katanya ga ngarep…?”

“Sial kamu Man…”

Nurul adalah cwe kelas X4 yang sepertinya suka dengan Fajar, beberapa kali aku dan teman-teman memperhatikan si Nurul sering curi pandang kepada Fajar. Tapi Fajar seperti tidak mau tahu, dia selalu berusaha menghindar dari Nurul. Karena Fajar selalu menghindar dari Nurul, akhirnya kami selalu menggodanya jika ada Nurul. Dan mungkin begitupun yang teman-teman lakukan kepadaku dengan Intan. demi kepuasaanya mereka menjodoh-jodohkan dengan Intan. memang terkadang terasa menyebalkan, tapi aku juga menikmatinya.

Kami tiba di depan kelas X1, wajah Fajar celingukan mencari-cari tempat duduk Intan dari luar jendela kelas.

“Hoe… dasar bodoh… bikin malu aja dikelas orang celingukan…” teriak Rudi sambil menarik Fajar yang tertinggal dari gerombolan kami.

“Nah itu… Intan.. haha akhirna ketemu juga tempat duduknya…” kata Fajar bersemangat.

“Eh… mangkanya kelas X1 jadi kelas favorit ya… lihat aja tenang banget…”

Jafar yang dari tadi diam mulai berbicara dengan satu topic menarik yang ditawarkan.

“Untung kita ga disana ya Far? Bayangin saja, reputasi kelas favorit mereka pasti akan hancur kalau kita masuk kelas sana…” Sulaiman menanggapi pernyataan Jafar.

“Apa iya Man… coba aku balik kesana sekarang…”

Jafar berbalik arah namun langsung ditahan oleh Dito.

“Bodoh… bodoh… maksudnya si Sulaiman, kalau kamu diterima masuk ke kelas X1… bukannya masuk kelasnya…”

Jafar cengar-cengir mendengar Dito membodoh-bodohkannya.

“Jam terakhir ini mata pelajarannya apa ya Bay?”

“Fisika”

“Fisika ya… HAH…? Fiska? Aku belum ngerjain PR yang kemarin…”

Semua melihat Sulaiman yang terkejut dengan jawabanku.

“Aku juga belum Man… gimana ini!!!...”

Wajah Rudi lebih kebingungan.

“Haduh aku juga…”

“Kamu juga belum Far?” Tanya Dito.

“Belum Dit… kamu sudah Bay?”

“Udang dong…”

“Sipp… aku juga udah…” kata Dito.

“Toss boss…” Jafar mengajak tos aku dan Dito karena sama-sama sudah mengerjakan.

Jafar melempar pandangan kepada Sulaiman yang sedang bingung. Meneupuk pundaknya.
“Sudah tenang… salin aja milikku Man…”

“Ayo cepet keburu Bu Dyah masuk ke kelas...”

Sulaiman mendorong Jafar untuk cepat-cepat menuju kelas. Rudi dan Fajar keduanya bergantian memandang aku dan Dito.

“Kalian ga nawarin bantuan sama kita?...”

Fajar hanya mengangguk menguatkan pertanyaan Rudi kepadaku dan Dito.

“Dasar kalian… ya udah ayo…”

Kami berempat langsung mempercepat laju kaki kami menuju kelas.

Beberapa anak kelas X4 yang berada di depan kelasnya memadati jalan menujuu kelas kami.

Di dalam kelas, Sulaiman sedang terburu-buru menyalin pekerjaan milik Jafar. Anak-anak perempuan sebagian juga ada yang sedang mengerjakannya. Aku mencoba mengeluarkan buku catatanku dari dalam tas. Semakin aku mencari buku tulis tersebut, perasaanku semakin tidak enak.

“Bentar Rud, aku cari buku tulisku… sambil nunggu kamu salin milik Dito bareng Fajar aja!!!...”

Rudi bergabung ke kelompok Dito, mereka terlihat sangat gelisah dan terburu-buru menulis tugas.

Aku masih mencari-cari buku tulisku, tapi aku tidak menemukan buku tersebut. Aku membongkar seluruh isi tas slempangku. Ketika aku sedang dalam mode pencarian tersebut, tak diduga Bu Dyah masuk ke dalam kelas kami. Wajahnya yang serius membuatku semakin gemetar dalam mencari buku tulis fisika ku.

“Selamat siang anak-anak…”

“Selamat siang Bu…”

Semua anak di kelas begitu tenang setelah kedatangan Ibu Dyah ke dalam kelas. Rudi, Sulaiman dan Jafar terlihat lebih tenang, walau wajahnya masih terlihat tertekan.

Bu Dyah duduk di kursinya, kaca mata yang tidak mantap di wajahnya di dorong keatas dengan jari telunjuknhya. Beliau membuka buku materi pelajaran, melihat-lihat sampai apa terakhir kami belajar.

“Oke, sekarang sudah pertemuan kedua sehabis libur semesteraan. Ibu harap kalian sudah kembali focus kepada pelajaran. Jadi, sekarang keluarkan tugas yang Ibu berikan hari kemarin…”

Aku benar-benar kebingungan di dalam kelas. Semua anak mengeluarkan tugas mereka dan meletakkan di atas meja.

“Dit… buku ku kayaknya ketinggalan… gimana nih…”

Kataku sambil berbisik-bisik kepada Dito sebagai teman semejaku.

“Yang bener Bay… lah tadi ga ikutan nyalin?...”

“Aku kira cuma keselip, jadi aku ga ikut nyalin… aduh gimana ya”

“Udah kamu pake buku tulis lain, cepet kamu salin…” saran Dito.

“Oke… sini bukumu…”

Dengan perasaan cemas, aku mulai menyalin tugas yang dikerjakan oleh Dito. Bu Dyah mulai memberi intruksi untuk memutar buku kami ke temen sebelah.

“Oke… tugas kalian kasihkan ke teman sebelah kanan ya, setiap hitungan yang ibu berikan kalian pindahkan, sampai ibu tentukan berapa…”

Tanganku berkeringat seperti biji-biji jagung.

“Satu… kasihkan ke teman sebelah kanan kalian…, sudah?... oke, Dua… Tiga…”

Bu dyah sudah mengintruksi untuk memindahkan tugas kami ke teman sebelah sampai hitungan ketiga. Aku menyuruh Dito untuk langsung saja memberikan tugasnya ke sebelah kanan ku.

“Kamu yang di belakang, kenapa tidak ikut memindahkan buku?... sedang apa kamu?...”

Bu Dyah berjalan menuju tempat dudukku. Suara detak sepatunya yang sebenarnya tidak terlalu keras, terasa seperti suara senapan AK47 di game COD. Dito menarik buku tugasnya dan menundukkan kepalanya. Aku meletakkan bolpoint yang sedari tadi ku ajak menari diatas bukuku.

“Coba Ibu lihat, bukumu…”

Aku membiarkan buku tulis yang tadi ku pakai untuk menyalin tugas Dito di angkat oleh Bu Dyah. Wajah Bu Dyah tiba-tiba mengerngit.

Keringat yang tadi hanya ada di tanganku sekarang mengucur di wajahku.

“Jadi kamu belum mengerjakan tugas kematin?...”

“Sudah Bu…”

“Terus?...”

“Kerjaan saya ketinggalan,… tapi serius saya sudah mengejakannya…”

“Tapi Ibu tidak bisa percaya begitu saja kalau tugas kamu tertinggal di rumah…”

“Saya jujur bu…”

“Ibu tidak bilang kamu bohong, hanya belum percaya… sekarang coba kamu kerjakan soal yang ibu berikan kemarin sebagai bukti…”

Semua teman laki-lakiku memandang kepadaku dengan wajah iba. Dito sesekali melihat aku dan Bu Dyah, namun kembali menunduk dan menyembunyikan buku tugasnya.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan perintah Bu Dyah. Aku mengeluarkan buku materi fisika ku, dimana terdapat kumpulan soal yang dijadikan tugas rumah.

Ketika aku berjalan menuju papan tulis untuk memulai mengerjakan soal.

“Tadi di kelas X1 tidak ada satupun siswa yang tidak mengerjakan tugas ataupun tertinggal dirumah mereka, kalian harus bisa mencontoh kelas X1. Kalian tidak boleh kalah dengan mereka…” terang Bu Dyah.

Kenapa semua hal baik selalu dikait-kaitkan dengan kelas X1. Hampir semua guru selalu membanding-bandingkan kelas X1 dengan kelas lain. Apakah seluruh siswanya adalah jenius, tidak ada yang seperti kami.


No comments :

Post a Comment