cerita itu perlu

Thursday, November 23, 2017

Bertemunya Pelepah Pohon Pisang dan Serat Daun Nanas: Sebuah Cerpen Filosofi

No comments :

Bertemunya Pelepah Pohon Pisang dan Serat Daun Nanas

Disuatu hutan di pulau Jawa lima miliar tahun yang lalu, hiduplah sekelompok orang, mereka menamakan kelompoknya suku Brok. Kepala suku Brok pada saat itu bernama Kruk. Kepala suku Kruk sedang sangat bingung, anak satu-satunya adalah perempuan. Jabatan kepala suku tidak bisa di turunkan kepada seorang perempuan. Umurnya sudah sangat tua, sehingga dia harus berfikir keras agar kelak pemimpin sukunya adalah keturunannya.

Pernah sekali dalam sejarah suku Brok, kepala sukunya hanya memiliki satu anak perempuan. Anak perempuan itu oleh bapaknya yang kepala suku, ingin di angkat sebagai penggantinya. Tetapi warga suku Brok semuanya menolak. Perempuan anak kepala suku bergaya hidup sangat mewah, ketika warga suku Brok hanya makan ubi jalar, perempuan anak kepala suku memakan ubi pohon dengan campuran parutan kelapa. Ketika warga suku Brok hanya memakai pakaian dari pelepah pohon pisang, perempuan anak kepala suku memakai pelepah pohon pisang dengan aksesoris kerang. Sangat mewah. Semua warga tidak suka kepadanya.
Akhirnya, karena tidak satupun warga suku Brok yang menyetujui anak perempuannya menjadi penerus tongkat kekuasaannya, kepala suku pada waktu itu, memandatkan jika kelak dia mati angkatlah wakil kepala suku sebagai penggantinya. Akhirnya matilah kepala suku itu, dan wakilnya diangkat sebagai penggantinya.

Setelah tongkat kekuasaan dipegang oleh wakil kapala suku. Lahirlah iri dengki dalam keluarga kepala suku yang sudah mati. Mereka terus melakukan perlawanan agar kekuasaan tetap ada pada keluarganya. Akhirnya mereka melepas pelepah pisang di tubuhnya, yang menjadi identitas suku Brok dan berganti memakai serat daun nanas. Mereka secara resmi telah keluar dari suku Brok dan membentuk suku baru bernama Cuk. Itulah sejarah kelam masa lalu suku Brok.

Kepala suku Kruk saat itu sedang berjalan mondar-mandir di depan gubug kayunya, melihat suasana wilayah sukunya yang tenang ditengah hutan. Tidak ada kegaduhan atau pertengkaran yang harus dia lerai. Tugas kepala suku adalah memastikan keamanan wilayah suku dan memastikan adanya sumber makanan warga suku.

Kepala suku Kruk melihat kearah sangat jauh, terlihatlah anak perempuannya sedang berdialog dengan seorang nenek tua. Nenek tua itu berbeda dari orang-orang disekitarnya, dia tidak memakai pelepah pisang sebagai pakaiannya, dia memakai serat kering. Kepala suku Kruk menghampiri kedua perempuan itu.

Ketika kepala suku Kruk datang mendekati keduanya, nenek dengan serat kering itu lari masuk kedalam gelapnya hutan. Langsung kepala suku Kruk menanyakan kepada anaknya tentang siapa sebenarnya nenek tua itu. Anak perempuannya tidak bisaa menjawab, karena sebenarnya nenek tua tadi tidak memberi tahu siapa dia sebenarnya. Nenek tua itu hanya mengatakan satu kata kepada anak perempuan kepala suku, “Kamu, kamu, kamu….” sampai kepala suku Kruk mendatanginya.

Sampai satu bulan sesudahnya, kepala suku Kruk jatuh sakit. Badannya panas, tangannya dingin dan badannya bergetar. Akhirnya, di pagi hari kepala suku Kruk meninggal dunia.

Anak perempuan kepala suku Kruk menangis di samping tubuh ayahnya. Semua warga datang menuju rumah almarhum kepala suku Kruk.

Wakil kepala suku menangis meraung-raung, lalu dia berpidato di hadapan warga suku Brok. Suaranya yang parau karena bercampur dengan tangisannya. Anak perempuan kepala suku Kruk berdiri di belakang wakil kepala suku.

“Warga suku Brok, hari ini kita semua bersedih. Kepala suku yang kita cintai sekarang telah berpulang kepada tuhan. Kita sedang mengalami kekosongan pemimpin. Maka dari itu karena kepala suku tidak memberi mandat kepada siapa dia digantikan, maka “aku”, sebagai wakilnya “memutuskan” untuk menggantikan sementara posisi kepala suku,….”

Wakil kepala suku mencabut senjatanya yang terbuat dari tulang ikan pari dan menancapkan di pelepah pisang di samping rumah kepala suku sebagai tanda pengesahannya.

“Aku sebagai pengganti kepala suku Kruk,…” wakil kepala suku kembali berpidato.

“Aku memberi perintah untuk dilakukan musyawarah pengangkatan kepala suku yang sebenarnya….”

Semua warga mengiyakan perintah kepala suku sementaranya, lalu mereka melakukan ritual penguburan jenazah.

Setelah jenazah selesai dikuburkan dengan semua ritual kesukuannya, dibukalah sebuah musyawarah terbuka di lapangan luas suku Brok. Semua warga suku datang menghadiri musyawarah terbuka untuk menentukan siapa pengganti kepala suku.

Pada akhirnya anak perempuan kepala suku tidak di terima menjadi pengganti ayahnya. Para pemuda kuat nan gagah pun tidak ada yang mau memegang posisi sebagai kepala suku. Akhirnya keputusan yang di dapat pada musyawarah itu adalah menunda musyawarah untuk satu minggu kedepan. Namun jika sebelum satu minggu telah ada calon kepala suku yang diterima oleh seluruh warga suku Brok, akan langsung dilantik.

Dua hari berlalu, tidak ada satu pun orang yang memberi suara siapa pemimpinnya kelak. Semua orang menutup mulut, mereka bingung, mereka tidak berani menunjuk orang, apalagi mencalonkan diri.

Hari ketiga setelah musyawarah terjadi hujan yang sangat lebat. Hujan terjadi begitu saja dan kondisinya sangat lebat, bukan hanya lebat tapi sangat lama hujannya. Perlahan-lahan air dari dataran tinggi mengalir begitu deras. Beberapa rumah warga terbawa air. Terjadilah banjir di dalam hutan.

Banjir tidak terlalu lama terjadi, setelah setengah hari selepas hujan reda, air banjir telah habis termakan tanah. Kondisi wilayah suku Brok kembali tenang.

Hari keempat setelah musyawarah, para pemuda perkasa yang bertugas memburu binatang pulang dari dalam hutan tanpa membawa hewan buruannya. Mereka tidak menemukan hewan-hewan, mungkin hewan itu terbawa air banjir hari kemarin. Mungkin.

Hari kelima setelah musyawarah, makanan semakin menipis, akhirnya mereka mencari ubi jalar dan ubi pohon seperti leluhur mereka dahulu. Tetapi, ternyata keberadaan ubi-ubian itu sudah sangat jarang ditemukan. Mereka hanya bisa makan untuk hari itu saja.

Hari keenam, para pemuda perkasa kembali pulang tanpa hasil. Hari itu warga suku Brok benar-benar tidak makan.

Hari ketujuh, para pemuda kembali berusaha mencari hewan buruan. Mereka memasuki daerah hutan lebih jauh dari biasanya. Berharap mereka mendapat hewan buruan untuk dimakan bersama-sama warga suku Brok. Namun ketidak beruntungan terjadi pada para pemuda perkasa pemburu binatang, mereka terjebak dihutan hingga gelap datang. Sebenarnya mereka hari itu bisa mendapatkan tiga rusa, tapi mereka terjebak dihutan.

Ditengah gelapnya malam yang sepi, terdengar suara perut lapar salah satu pemuda. Setelah mempertimbangkan keadaan mereka, satu kaki rusa dipotong dan dibakar. Semua pemuda perkasa itu makan malam, dengan perasaan pilu memikirkan warga suku Brok yang sedang menahan lapar.

Api unggun yang berkobar membara di tengah gelapnya hutan, ternyata menarik perhatian sekelompok suku lainnya. Mereka berlari menuju api unggun milik pemuda perkasa pemburu binatang, lalu mengelilingi mereka. Senjata-senjata tulang mereka digenggam kuat dan memasang kuda-kuda. Semua pemuda perkasa suku Brok tidak melakukan perlawanan, mereka memilih mengalah.

Melihat para pemuda perkasa pemilik api unggun tidak melakukan perlawanan setelah mereka dikepung, pemimpin kelompok suku yang menyergap memberi instruksi kepada anggotanya untuk memasukkan lagi senjata mereka.

Pemimpin kelompok suku yang menyergap melakukan dialog kepada pemuda perkasa pemburu binatang suku Brok. “Siapa kalian, dan mengapa ada di wilayah teritorial suku Cuk?…”

Para pemuda perkasa suku Brok menjelaskan mengenai keadaan kelompoknya yang sedang tersesat di tengah hutan. Akhirnya para pemuda itu saling mengobrol santai satu sama lain, setelah mengetahui bahwa antara mereka ternyata satu nenek moyang.

Pemuda perkasa dari suku Brok menceritakan bahwa disukunya sedang terjadi paceklik hewan buruan. Sehingga mereka memberanikan diri masuk hutan yang lebih jauh untuk mencari hewan buruan. Yang terjadi ternyata mereka tidak bisa pulang.

Kelompok suku yang tadi menyergap juga menceritakan bahwa di wilayahnya sekarang sedang mengalami paceklik air bersih. Air bersih sangat sulit didapat sehingga mereka harus pergi jauh ke dalam hutan untuk mencari sumber air, tapi sangat sedikit mereka dapatkan.

Kedua kelompok suku tersebut di malam itu makan bersama di tengah hutan. Mereka berencana di pagi harinya pergi bersama-sama menuju wilayah suku Brok, untuk mengambil air.

Pagi menjelang, semua pemuda dari kedua wilayah suku bersama-sama berangkat menuju wilayah suku Brok. Sebelum mereka berangkat, bara di matikan dahulu agar tidak terjadi kebakaran hutan.

Memasuki wilayah suku Brok, semua warga terkejut. Pemuda perkasa pemburu binatang ternyata tidak hanya membawa binatang buruan tetapi juga membawa sandera dari suku lainnya, setidaknya itu yang mereka pikirkan.

Pemuda perkasa pemburu binatang buruan menjelaskan perkara yang sebenarnya terjadi kepada semua warga di lapangan. Setelah semua warga paham atas kedatangan pemuda-pemuda berpakaian serat daun nanas, mereka semua membantu pemuda berpakaian serat nanas itu mengambil air bersih untuk di bawa ke suku mereka.

Anak perempuan almarhum kepala suku juga ikut membantu para pemuda berpakaian serat daun nanas. Dia memberikan ember kayunya untuk pemuda berpakaian serat daun nanas.

Setelah pemuda dari suku Cuk mendapat cukup air, mereka berpamitan kepada warga suku Brok. Setelah sekian abad kedua suku itu tidak bertemu, tidak ada suasana permusuhan yang terjadi. Para pemuda suku Cuk di sambut baik di wilayah suku Bruk.

Sampai hari kesembilan, musyawarah belum dilakukan lagi. Semua warga seolah sudah terkubur dalam masalah pencarian hewan buruan, yang mereka pikirkan sekarang adalah bagaimana mendapat hewan buruan yang cukup.

Hari itu, pemuda suku Cuk kembali datang untuk meminta air bersih. Mereka membawa pemuda yang lebih banyak dan membawa ember yang lebih besar. Kondisi wilayah sukunya dalam kondisi darurat air bersih.

Setelah warga suku Brok membantu mengambil air di sumber air wilayah mereka, mereka secara kompak meminta bantuan kepada pemuda suku Cuk untuk saling bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan suku mereka. Pemuda suku Cuk setuju, maka berangkatlah pemuda suku Brok menuju hutan wilayah suku Cuk untuk berburu hewan. Anak perempuan almarhum kepala suku ikut dalam operasi perburuan hewan, dia ngotot ikut karena dia salah memberi ember kepada pemuda suku Cuk ketika mereka pertama kali datang ke wilayah suku Brok. Di rumah almarhum pepala suku Kruk banyak terdapat ember, tetapi ada satu ember yang menjadi benda pusaka keluarga. Anak perempuan almarhum kepala suku seharusnya memberikan ember biasa, tapi karena waktu itu semua ember berserakan paska banjir, dia salah mengambil ember.

Sampailah mereka di hutan wilayah suku Cuk, para pemuda perkasa pemburu binatang mulai berburu. Anak perempuan almarhum kepala suku hanya bertugas mengumpulkan hewan buruan yang terkena panah. Sampai sore hari, buruan yang mereka dapatkan belum banyak, sehingga pemuda suku Cuk memberi saran kepada pemuda suku Brok untuk menginap di wilayah suku Cuk.

Kedatangan pemuda suku Brok disambut hangat oleh warga suku Cuk. Mereka bahkan memberi jamuan dan pesta kecil sebagai tanda terimakasih karena telah memberi mereka air bersih.

Kepala suku Cuk adalah seorang perempuan, namanya Sron. Kepala suku Sron sudah sangat tua, anaknya adalah ketua kelompok pemuda suku Brok yang sering datang ke wilayah suku Brok untuk meminta air bersih. Pemuda anak kepala suku Sron adalah pemuda yang menerima ember dari anak perempuan almarhum kepala suku Kruk. Ketika ditanyakan dimana ember dari suku Brok, pemuda anak kepala suku Sron lupa.

Pemuda anak kepala suku Sron, menceritakan tentang perkara ember yang dia bawa dari suku Brok. Dia lupa ember seperti apa yang dimaksud oleh anak perempuan almarhum kepala suku Kruk.

Kepala suku Sron memanggil anak perempuan almarhum kepala suku Kruk, dia dibawa ke dalam rumah kepala suku Sron. Sepertinya ada hal yang sangat penting, sehingga kepala suku Sron tidak memperkenankan orang lain ikut kedalam rumah kepala suku Sron.

“Nak cantik, ada sebuah peraturan di dalam kesukuan Cuk,…”
“Peraturan,… maaf peraturan apa ibu kepala suku,…”
“Peraturan ini sudah menjadi keharusan, jadi jika ada orang lain diluar suku

Cuk mengambil benda mati yang ada di wilayah suku Cuk dia harus memilih dua pilihan, pertama dia harus mati, yang kedua dia harus masuk menjadi warga suku Cuk,…”

Anak perempuan almarhum kepala suku Kruk bimbang dengan kedua pilihan tersebut, tetapi ember yang telah dia berikan kepada pemuda suku Cuk adalah benda pusaka yang harus berada di wilayah suku Brok. Keberadaannya adalah harus, tidak bisa diganggu gugat.

Pagi harinya kelompok pemuda perkasa pemburu binatang pun pulang, tanpa membawa ember pusaka kesukuan Brok. Anak perempuan almarhum kepala suku Kruk ingin memusyawarahkan terlebih dahulu tentang keadaan yang sedang terjadi.

Siang harinya, anak perempuan almarhum kepala suku Kruk mengumpulkan semua warga suku Brok di lapangan. Dia berpidato atas apa yang terjadi, dan dua pilihan yang harus diambil.

Salah satu pemuka adat suku Brok akngkat bicara, “Ember pusaka kesukuan Brok harus di bawa pulang karena ember itu adalah benda pusaka pertanda seorang kepala suku, kepala suku harus memilikinya, dan juga adat di kesukuan Brok bahwa semua warga yang berjuang mempertahankan benda pusaka kesukuan Brok “harus dilindungi”, artinya dia tidak boleh di tukar nyawa dengan ember pusaka, kalau perlu kita lakukan perlawanan…”

Semua warga bingung, tidak mungkin demi sebuah ember pusaka, nyawa seorang warga kesukuan Brok di korbankan. Tetapi ember pusaka kesukuan Brok juga harus ada di wilayah kesukuan Brok, harus.

Akhirnya atas keputusan bersama seluruh warga suku Brok, akan dilakukan penyerangan langsung untuk mengambil paksa ember pusaka kesukuan Brok. Pada hari berikutnya dilakukanlah rencana penyerangan tersebut. Pemuka adat dan kepala suku sementara ikut mengomandani pasukan kesukuan Brok dalam menyerang kesukuan Cuk. Anak perempuan almarhum kepala suku Kruk tidak bisa menahan gelombang pasukan suku Brok untuk menyerang suku Cuk.

Dengan terpaksa hati, anak perempuan almarhum kepala suku Kruk, ikut dalam pasukan melawan kesukuan Cuk, untuk mengambil paksa ember pusaka kesukuan Brok.

Sesampainya di gerbang hutan kesukuan Cuk, untuk memastikan keadaan lawan, dikirimlah dua pemuda perkasa pemburu hewan yang hari kemarin mendatangi wilayah kesukuan Cuk untuk menjadi agen inteligen.

Dua pemuda perkasa pemburu hewan masuk kedalam wilayah hutan kesukuan Cuk dan langsung menuju permukiman warga kesukuan Cuk. Daerah pinggiran pemukiman kesukuan Cuk terlihat sepi, tidak ada orang yang beraktivitas seperti yang mereka lihat di hari kemarin. Pemuda perkasa pemburu hewan lalu masuk ke jantung pemukiman, dimana terdapat rumah kepala suku dan lapangan musyawarah.

Ternyata di lapangan musyawarah semua warga kesukuan Cuk sedang berkumpul. Ditengah lapangan terdapat peti mati, semua orang sibuk dengan acara ritual kesukuan mereka. Pemuda perkasa pemburu hewan penasaran dan masuk kedalam kerumunan warga kesukuan Cuk. Para pemuda perkasa pemburu hewan disambut baik oleh warga kesukuan Cuk. ternyata, pagi tadi kepala suku Sron meninggal dunia. Atas meniggalnya kepala suku Sron maka kepala suku sementara digantikan oleh wakilnya.
BERTEMUNYA PELEPAH POHON PISANG DAN SERAT DAUN NANASDi kesukuan Cuk, kepala suku haruslah seorang wanita, sedang anak semata wayang kepala suku Sron adalah seorang laki-laki. Sehingga anak laki-laki kepala suku Sron tidak bisa menjadi kepala suku, menggantikan kepemimpinan kepala suku Sron.

Para pemuda perkasa pemburu hewan kembali kepada pasukannya, mengabarkan keadaan yang sedang terjadi di dalam wilayah kesukuan Cuk. Pemimpin adat berfikir keras, apakah akan dilanjutkan penyerangan atau tidak. Aturan perang yang menjadi hukum adat kesukuan Brok adalah tidak boleh menyerang wilayah yang sedang mengalami bencana. Pemimpin adat berpendapat bahwa kematian kepala suku Sron merupakan sebuah bencana yang sedang melanda kesukuan Cuk.

Akhirnya kepala suku sementara, memberi perintah untuk datang ke dalam wilayah kesukuan Cuk. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk berbela sungkawa atas meniggalnya kepala suku Sron.

Setibanya di wilayah kesukuan Cuk, anak perempuan almarhum kepala suku Kruk di arak menuju lapangan musyawarah. Semua warga memberi selamat kepada anak perempuan almarhum kepala suku Kruk. Dia sendiri bingung, kenapa dia diarak ketengan lapangan.

Setelah anak perempuan almarhum kepala suku Kruk naik podium ditengah lapangan, pemimpin adat kesukuan Cuk langsung melantik anak perempuan almarhum kepala suku Kruk.

Pemimpin adat berpidato dihadapan warga kesukuan Cuk dan dihadapan pasukan kesukuan Brok. “Tadi malam sebelum meninggalnya kepala suku Sron, telah dimandatkan bahwa kepala suku kita selanjutnya adalah anak perempuan dari suku Brok yang telah meminta ijin mengambil ember pusaka kesukuan Brok di wilayah kesukuan Cuk. Secara adat, anak perempuan itu sudah menjadi warga kesukuan Cuk,… Maaf nak, namamu siapa?…”Pemimpin adat melihat ke anak almarhum kepala suku kruk.

“Saya belum mempunyai nama, adat di kesukuan Brok nama diberikan ketika seorang telah menikah. Dan juga saya belum bisa menerima mandat sebagai kepala suku kesukuan Cuk, sebelum saya bermusyawarah dengan warga kesukuan Brok terlebih dahulu”

Kepala suku sementara kesukuan Brok dan pemimpin adat kesukuan Brok saling berdiskusi, mereka lalu membuat musyawarah mendadak dengan semua pasukan. Semua pasukan setuju jika anak perempuan almarhum kepala suku Kruk menjadi kepala suku Cuk, melihat kondisi sedang krisis pangan, untuk menghindari korban perang dan untuk menjaga perdamaian.

Kepala suku sementara kesukuan Brok lalu memberi ijin kepada anak perempuan almarhum kepala suku Kruk untuk menjadi kepala suku Cuk dengan syarat ember pusaka harus di bawa ke wilayah kesukuan Brok.

Kepala suku sementara kesukuan Cuk setuju dengan permintaan kepala suku sementara kesukuan Brok. Maka dibawa pulanglah ember pusaka milik kesukuan Brok.

Anak perempuan almarhum kepala suku Kruk dilantik menjadi kepala suku Cuk. Tetapi karena dia belum memiliki nama, anak perempuan almarhum kepala suku Kruk belum memiliki kekuasaan untuk memerintah. Pemerintahan sementara di pegang oleh kepala suku sementara yang sebelumnya sebagai wakil kepala suku Sron.

Dengan keadaan kepala suku yang tidak memiliki kekuasaan, menjadikan kekuatan politik luar wilayah kesukuan Cuk sangat lemah. Sehingga secepatnya kepala suku yang baru harus mempunyai nama. Anak perempuan almarhum kepala suku Kruk tidak bisa memiliki nama begitu saja, dia harus mematuhi adat di kesukuan Brok. Walaupun dia sekarang merupakan warga kesukuan Cuk, dia tetap menjadi anggota warga kesukuan Brok, karena ikatan adat sebagai keturunan kepala suku.

Karena alasan itu, semua warga kesukuan Cuk menuntut kepala suku yang baru untuk menikah dan memiliki nama. Akhirnya kepala suku Cuk yang baru, memberi pendapat kepada wakil kepala suku sebagai pemilik kekuasaan sementara, untuk diadakan biro jodoh. Wakil kepala suku menyetujuinya, dia hanya mengangguk saja, dia paham apa yang harus dia lakukan. Di dalam adat kesukuan Cuk ada kepercayaan tentang penjodohan. Kepercayaannya adalah, siapa yang masuk kedalam hutan dan mendapat buah jeruk dan dibagikan kepada anak-anak maka dia yang menjadi jodoh dalam ritual penjodohan. Penjodohan akan gagal jika rencana penjodohan bocor ke telinga warga. Singkatnya kepercayaan ini hanya di ketahui oleh wakil kepala suku dan pemimpin adat, bahkan anak perempuan almarhum kepala suku Kruk yang sedang mencari jodoh tidak boleh tahu mengenai kepercayaan ini. Karenanya wakil ketua hanya mengiyakan jika akan diadakan biro jodoh, tanpa memberi tahukan kalau ada ritual penjodohan. Sebuah kepercayan yang hanya diketahui oleh kelompok elit kesukuan Cuk.

Seminngu setelah keinginan kepala suku yang baru mendapat jodoh, belum ada orang yang mendapat jeruk dari hutan. Tepat dua belas hari setelah keinginan kepala suku baru mendapat jodoh, wakil kepala suku mendapati anaknya yang masih kecil memakan jeruk. “Jeruk dari mana itu nak… Bapak Boleh minta?…”
“Jeruk dari Paman Srup…”

Wakil kepala suku langsung memanggil orang yang bernama Srup, Srup adalah pemuda anak kepala suku Sron. Srup langsung dibawa ke lapangan musyawarah dan semua warga diundang berkumpul di lapangan. Wakil kepala suku menceritakan menganai penjodohan yang terjadi, dia meminta apakah dia menyukai kepala suku baru, dan bersedia menikahinya.

Srup terdiam sejenak, dia terlihat berfikir dalam. Srup melihat kepala suku yang baru, lalu dia mengalakan kepada wakil kepala suku, “Maaf, aku tidak bisa menikah dengan wanita yang… (terdiam sejenak) yang belum aku tanyai apakah dia mau menikah denganku… maaf”

“Kalau begitu kenapa kamu tidak tanyakan sekarang?…” kata wakil kepala suku menjitak kepala Srup.
“Oh iya,… tapi ditempat seramai ini?…”
“Dimana lagi?”
“Baiklah kalau begitu, aku kan menanyakan kepada kepala suku,… kepala suku maukah kau menjadi istriku?…”
Kepala suku yang baru terseyum, “Iya”…
Akhirnya mereka berdua menikah di hari itu juga, keluarga kepala suku di kesukuan Brok dijemput ke wilayah kesukuan Cuk.

“Hari ini aku, kepala suku Cuk, telah memiliki nama, sesuai dengan perintah ayahku, almarhum dahulu telah memberi nama kepadaku, yaitu Frin”
Nama seseorang sebenarnya sudah diberikan oleh orang tuanya, tapi orang lain boleh memanggilnya dengan nama itu setelah orang itu menikah. Itulah adatnya.

Pesta pernikahan dilakukan di dua tempat, di wilayah kesukuan Cuk dan di wilayah kesukuan Brok.

Kepala suku sementara suku Brok, memanggil Srup untuk datang ke wilayah kesukuan Brok. Dia mengabarkan ada sesuatu yang penting yang harus diselesaikan antara Srup dan kesukuan Brok.

Ketika Srup memasuki wilayah kesukuan Brok, Srup di arak menuju lapangan muryawarah kesukuan Brok. Dia langsung dilantik menjadi kepala suku Brok. Sesuai dengan adat yang ada di kesukuan Brok, jika kepala suku meninggal dunia, maka anak kepala suku menjadi penggantinya, jika anak kepala sukunya adalah perempuan, maka tidak bisa menggantikan. Jika anak perempuan itu bersuami, maka suaminya yang menjadi kepala suku, hingga lahir anak laki-laki dari suami istri tersebut. Dan anak laki-laki itu baru dilantik ketika dia dewasa.

Pemerintahan kedua kesukuan menjadi bersilang, kepala suku Cuk merupakan keturunan suku Brok dan kepala suku Brok merupakan keturunan suku Cuk. Akhirnya setelah diadakan musyawarah antar suku, kedua warga kesukuan menyatakan untuk menggabungkan diri. Mereka kembali menjadi satu suku seperti jaman dahulu kala. Kebudayaan mereka sekarang saling melengkapi, pakaian mereka sekarang merupakan perpaduan antara serat daun nanas dan serat pelepah pisang.

No comments :

Post a Comment