cerita itu perlu

Thursday, November 23, 2017

HUJAN DERAS DI MALAM DINGIN

No comments :

HUJAN DERAS DI MALAM DINGIN

Hujan Deras di Malam Dingin -Tiga anak perempuan sedang duduk bergurau menunggu satu loyang Pitza pesanannya. Malam itu Rina sedang mentlaktir dua temannya Indri dan Susi karena nilai pelajaran olah raga Rina naik dari biasanya enam sekarang menjadi delapan. Malam itu demi merayakan kenaikan nilai tersebut, Rina sudah mentlaktir dua sahabatnya dengan nonton bioskop, shoping di Mall-mall besar jantung kota dan melepas lelah di ruang karaoke sampai akhirnya mereka merasa lapar.


waktu sudah mendekati pukul sepuluh malam, mereka bertiga masih berbincang-bincang tentang gadget yang sedang ngetren, baju-baju, sepatu dan tentunya tas yang mereka impikan. sesekali mereka menyinggung beberapa teman kelasnya yang tidak mengikuti mode terbaru. Suara mereka begitu riuh, menemani suara-suara remaja-remaja lainnya yang sama-sama menunggu pesanan mereka di restoran itu. Beberapa laki-laki paruh baya dengan jam tangan mengkilap mengisi meja-meja kosong membahas saham dan pasar penjualan.

Restoran “Tak Terlalu Murah” itu namanya, terletak di ginjal kota, dengan bangunan yang luas dan kokoh. Warnanya yang merah ditengah bangunan putih disekitarnya memberikan aura eksklusive. Di dalamnya tidak ada tempat parkir motor, apa lagi sepeda ontel. Kendaraan paling murahan yang masuk kedalam lokasi parkiran restoran adalah mobil pick up, itu pun mobil pembawa bahan-bahan masakan untuk restoran itu.

Malam itu, ayah Rina pun belum pulang kerumah. Dia sedang berjuang sebagai seorang direktur perusahaan makanan gordon. Dia selalu pulang larut malam dan sangat jarang bertemu dengan anak semata wayangnya.

Malam itu, mama Rina pun belum pulang kerumah. Dia sedang berjuang merawat rambut dan kulitnya di salon “Mutiara Suram” bersama istri-istri direktur perusahaan makanan lainnya. Dia sering pulang larut malam, tapi lebih sering Rina sebagai remaja putri gaul jaman sekarang.
Dirumahnya hanya terdapat bibi Niah, pembantu setia yang pertama direkrut ketika Rina lahir. Enam belas tahun bibi Niah telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kecil tersebut. Hidup ditengah-tengah sebuah keluarga yang sangat jarang berkumpul secara lengkap di rumah mereka.

Malam itu, Rina telah menghabiskan uang hampir sebanyak harga seratus kilogram beras. Mata uang Negara saat itu sedang sangat buruk. Harga bahan pangan sedang melonjak tinggi. Harga cabai meroket jauh. Bahkan bawang putih hilang dipasaran.

Kehidupan di malam itu sangat menyenangkan, Rina sangat bahagia melihat dua sahabatnya puas akan pesta kenaikan nilai tersebut. Indri dan Susi tertawa terbahak-bahak mendengar semua topik perbincangan lucu Rina. Kentang goreng kembali dipesan.

Malam itu semakin larut, waktu sudah melewati pukul setengah dua belas. Udara di rumah-rumah kumuh beratap seng dan asbes di belakang tembok restoran “Tak Terlalu Murah” semakin gerah. Udara di dalam restoran begitu sejuk, AC standing berdiri di beberapa tempat tiap ruangan. Mendung tiba-tiba menyelimuti seluruh langit di malam itu.

Tengah malam telah datang, petir bertalu-talu, halilintar membelah langit hitam, dan gerimis mulai turun. Kelasa-kelasa warung lesehan di depan restoran “Tak Terlalu Murah” di tarik. Pengunjungnya mulai pergi meninggalkan nikmatnya kopi hitam pahit dan kartu remi. Pengamen-pengamen mulai mendatangi penjual angkringan yang ditinggalkan pembelinya, memesan segelas wedang jahe dan sebatang rokok dengan uang recehan. Mereka duduk berjajar di bawah terpal penutup gerobak angkring, dengan bangku kayu yang pendek.

Udara yang gerah di rumah-rumah kumuh beratap seng dan asbes di belakang restoran “Tak Terlalu Murah” tiba-tiba berubah terasa begitu dingin. Kaki-kaki tanpa sandal berdiri di atas lantai jubin di rumah-rumah itu, terserang rasa ngilu dingin menusuk sendi. Kelasa-kelasa bekas warung lesehan depan restoran “Tak Terlalu Murah” digelar untuk menutupi lantai jubin. Suami-istri pelayan di warung lesehan pun tidur diatasnya, di temani beratus nyamuk dan di bawah atap seng yang mulai berisik karena gerimis semakin berubah menjadi deras.

Daun-daun di pohon asem pinggir jalan mulai rontok berhamburan dan basah. Ranting-ranting penuh daun saling bergesekan, menciptakan suara berisik dan menggelisahkan. Penjual angkring memaksa para pengamen menenggak habis wedang jahenya, beberapa gorengan yang tersisa diberikan cuma-cuma. Lalu para pengamen membantu penjual angkring membongkar lapaknya.
Penjual angkring mendorong gerobak meninggalkan tempat jualannya di depan restoran “Tak Terlalu Murah” di iringi oleh para pengamen, menertawakan istri-istri mereka yang selalu mengomel meminta daster yang lebih layak.

Butir-butir halus gerimis kini benar-benar telah menjelma menjadi deras, memberikan rasa perih di kulit ketika mengenainya. Penjual angkring mempercepat laju gerobagnya, hujan tak mau memahami. Pengamen tak kuasa melihat betapa berat penjual angkring mendorong gerobag, dengan suka rela mereka mengangkat bersama-sama gerobag angkring menuju halaman masjid yang sedang mereka lewati. Sisa nasi-nasi kucing akhirnya dimakan bersama-sama, berharap hujan reda dan mereka melanjutkan perjalanan.

Rina, Indri dan Susi mungkin mendengar betapa keras suara petir di luar, namun hujan tak mungkin mereka sadari. Suara musik terus diputar memenuhi seluruh sudut restoran “Tak Terlalu Murah”. Rina, Indri dan Susi bersenandung mengikuti suara vokalis lagu yang diputar. Hujan di luar yang begitu deras, yang suaranya sebenarnya begitu lembut, bernyanyi bersama kumpulan pengamen dan penjual angkring.

Suara Deras Hujan di Malam Dingin

Lagu yang diputar di dalam restoran “Tak Terlalu Murah” mulai memasuki bagian outro, Rina, Indri dan Susi menyenandungkan bagian reff yang terakhir. Mereka bernyanyi seolah mereka sedang berada di ruang karauke tadi magrib. Pengunjung restoran “Tak Terlalu Murah” lainnya tidak mempedulikan kegaduhan yang mereka perbuat, bahkan sebenarnya pengunjung yang lain menikmati melihat gadis-gadis itu berada di restoran “Tak Terlalu Murah” melewati malam menjelang pagi itu.

Indri melihat jam tangan bercorak barbienya, jam menunjukkan pukul setengah dua pagi. Susi mulai memberi kode kepada Rina untuk pulang. Bertiga bangkit dari kursi restoran “Tak Terlalu Murah” menuju kasir, Rina membayar semua makanan dan minuman yang sudah mereka santap ria. Petugas kasir yang ramah menggesek kartu yang diberikan oleh Rina kepadanya, semua lunas.
Ruangan restoran “Tak Terlalu Murah” tiba-tiba gelap, suara musik terhenti, suara petir terdengar. Listrik restoran “Tak Terlalu Murah” padam. Dalam gelap gulita itu, ketiga gadis yang telah merayakan pesta kenaikan nilai olahraga Rina, mendengar merdunya berjuta air berebut jatuh mengairi bumi. Gadget Indri di nyalakan untuk memberi cahaya di tengah syahdunya suasana. Lima menit berlalu, listrik kembali menyala di restoran “Tak Terlalu Murah”, pengelola telah menyalakan jenset.

Susi tersentak sesaat, nyala cahaya lampu pijar yang tergantung di depannya mengagetkan matanya. Rina menggenggam tangan Susi dan tersenyum kepadanya. Jemari tangan Rina erat hangat menenangkan Susi. Indri memeluk dua sahabatnya dan menuntun mereka berjalan menuju tempat parkir mobil mereka.

Di tempat parkir basement suara musik mulai kabur, suasana kembali sunyi seperti sesaat ketika listrik padam. Lampu di tempat parkit tidak seterang di ruang restoran, cahayanya pijar, tenangkan suasana.

Rina menyalakan mobil sedannya, suara mesin halus menderu. Indri membuka beberapa plastik hasil shoping di Mall sore tadi, mengambil beberapa snack ringan dan menawarkan kepada dua sahabatnya. Susi menyalakan musik player di mobil tersebut, memutar equalizer bass, musik hip hop menggetarkan ketiga remaja putri gaul jaman sekarang itu. Suasana dari cahaya pijar yang tenang telah sirna.

Mobil mereka keluar lingkungan restoran, menembus derasnya hujan penuh cahaya kilat membelah langit hitam. Kos Susi dan Indri telah ditutup sejak pukul Sembilan malam, mereka berencana menuju rumah Rina untuk melepas lelah. Mobil mereka terus melaju, melewati sebuah masjid dengan sekumpulan orang sedang bermain kartu dan sebuah gerobag di depannya.

Hujan deras itu sudah setengah jam mengguyur kota, aroma air menambah dingin emperan masjid. Sadar akan hujan yang akan lama untuk reda, penjual angkring membagikan dua kopi panas untuk diminum bersama-sama.

Genangan air di depan masjid sepertinya sudah setinggi mata kaki. Alirannya deras membawa berbagai macam sampah daun, plastik dan putung rokok. Pengamen-pengamen memetik gitar akustik dan okelele mengiringi permainan kartu, dua gelas kopi dan berjuta air hujan yang jatuh berisik. Salah satu pengamen menyanyikan lagu anak-anak sebagai hukuman karena kalah bermain. Penjual angkring membuka sebungkus rokok ditawarkan kepada pengamen dan diganti dengan uang receh mereka. Malam dingin itu berubah begitu hangat di dada.

Salah satu pengamen melihat jam dinding masjid, waktu sudah mendekati pukul setengah tiga, lalu dia mengkritik hujan yang tak henti mereda. Dua orang pengamen lainnya memutuskan untuk tidur di masjid, dengkur mereka terasa begitu nyenyak. Mata penjual angkring dan beberapa pengamen pun sudah merah pedih. Kopi sudah tak mampu mempertahankan terjaganya mata.

Hujan sebenarnya mulai mereda di pukul tiga kurang seperempat. Melihat para pengamen yang tertidur pulas, penjual angkring mengeluarkan hp monokromnya memberi kabar kepada istri tercinta bahwa akan pulang subuh hari. Kartu, gelas kopi dan abu rokok di bersihkan, penjual angkring dan pengamen tidur di masjid.

Suasana kembali begitu tenang, tak ada suara gitar, lagu anak-anak dan deras hujan. Rintik air berubah menjadi gerimis, gerimis perlahan menjadi embun. Seorang tua sekarang sedang berjalan dengan teken nya, melewati trotoar depan pertokoan. Langkahnya yang lambat selambat tetesan air dari daun selepas hujan.

Mobil Rina sampai di depan gerbang rumah, klakson mobilnya mengagetkan pak Sukirno satpam yang mendapat jatah jaga pada jam itu. Pintu gerbang di buka, mobil memasuki halaman rumah yang tak begitu luas. Garasi mobil sudah tidak muat karena mobil ayah dan mama Rina sudah masuk didalamnya. Payung merah di buka oleh pak Sukirno melindungi ketiga remaja putri gaul jaman sekarang keluar dari dalam mobil. Ketiga remaja putri itu langsung menuju kamar Rina di lantai dua, mengganti baju dan tidur pulas.

Suara adzan bersalutan di tengah pagi yang dingin. Seorang tua yang berjalan dengan teken nya telah sampai di depan masjid. Melihat sekumpulan orang tidur pulas dengan suara dengkurnya. Seorang tua melepas sandalnya yang penuh lumpur, mencuci kaki tuanya, berwudlu dan masuk kedalam masjid menyalakan beberapa lampu. Suara adzan yang parau tak halus lagi di kumandangkan oleh seorang tua itu, berharap kumpulan orang di teras terbangun tanpa harus di bangunkan.

Sahutan adzan telah berlalu, suara dengkur kumpulan orang diteras masih terdengar. Seorang tua itu berjalan menuju sekumpulan orang yang tidur diteras, mengoyang-goyangkan bahu mereka satu persatu. Satu-persatu orang yang tidur diteras terbangun. Satu persatu orang yang tidur diteras mengambil wudlu.

Penjual angkring memegang mic masjid dan mengumandangakan iqomah, seorang tua yang tadi adzan maju menjadi imam sholat subuh. Suasana sholat terasa begitu khusuk, lantunan alquran dari seorang tua itu terasa mengiris jiwa. Subuh itu sepi, hanya ada seorang tua, penjual angkring dan para pengamen.

Selepas subuh para pengamen kembali tidur sedang penjual angkring dan seorang tua pulang menuju istana kecil di belakang restoran “Tak Terlalu Murah”, istana dengan atap seng dan asbes. Penjual angkring menarik gerobagnya, seorang tua berjalan dengan teken nya di sebelah kanannya. Rina dan dua sahabatnya masih tertidur pulas ketika seorang tua dan penjual angkring sedang berjalan dan mengobrolkan masa depan anak dan cucu mereka.

Pagi menjelang, bibi Niah sibuk di dapur memasak sup sapi sesukaan Rina. Ayah dan mama Rina masih tertidur, mereka akan terbangun jika alarm di kamar mereka berdua berdering. Rina tidak akan terbangun walaupun alarm berdering keras, apalagi hari ini sekolah libur karena sedang tanggal merah.

Handpone ayah Rina telah mati karena kehabisan baterai, handpone mama Rina sengaja di matikan olehnya. Tidur ayah Rina tak terganggu pesan-pesan masalah perusahaan karena handponenya telah mati. Alarm jam bangun pagi berdering, dua pasangar suami istri itu memulai aktivitas padatnya.
Ayah Rina melihat handponenya yang mati, menancapkan charge untuk mengisi daya baterai. Menunggu penuh daya baterai, ayah Rina membersihkan badanya dengan mandi pagi. Mama Rina membasuh wajahnya, kemudian menuju dapur melihat bibi Niah memasak dan sesekali membantunya.

Pak Sukirno datang menemui mama Rina, mengabarkan ada sekelompok orang yang datang mencari ayah Rina. Mama Rina menghampiri sekelompok tamu tersebut, menanyakan keperluan apa dengan suaminya. Sekelompok orang itu dipersilahkan masuk ruang tamu. Tak ada senyum di wajah mereka.

Sekelompok orang itu enggan menceritakan kepada mama Rina apa keperluan mereka, mereka mendesak mengatakannya hanya kepada ayah Rina. Bibi Niah memberi kabar kepada Ayah Rina bila ada tamu atas perintah mama Rina. Ayah Rina bergegas menggunakan pakaian yang rapi dan menuju ruang tamu.
Sekelompok tamu itu menceritakan keperluan dengan Ayah Rina. Mama Rina pingsan, tatapan mata ayah Rina kosong. Sekelompok orang itu menundukkan wajahnya.

Penjual angkring sedang berbincang di dapur sempit rumahnya dengan istrinya. Menceritakan bagaimana malam dia lalui, dan menceritakan apa yang diceritakan seorang tua selepas subuh kepadanya.

Istri penjual angkring hanya bisa berdoa semoga tidak ada korban jiwa. Pabrik Gordon pukul dua terbakar. Sepertinya sebuah ledakan dari dalam pabrik berasa dari hubungan arus pendek, mungkin hal itu yang memadamkan listrik saat itu. Rumah seorang tua yang berjalan dengan teken berdekatan dengan lokasi pabrik Gordon.

Anak perempuan penjual angkring yang bekerja di pabrik Gordon mungkin harus beralih membantu ibunya berjualan batagor di depan sekolah dasar. Berjualan sambil bersenda gurau dengan anak-anak yang belum punya banyak dosa.

Suasana di rumah Rina begitu haru, satu-satunya pabrik milik keluarga Rina sudah hangus tak terselamatkan. Angin selepas hujan yang masih ribut, menyusahkan pemadaman api. Ketika seorang tua dan penjual angkring berjalan menuju istananya yang beratap seng dan asbes, api belum selesai dipadamkan.

~J~

No comments :

Post a Comment